Apa titik akhir dari sebuah studi yang telah di selesaikan ?
Inilah yang aku pikirkan sekitar 2 bulan yang lalu, apakah sampai disini, apa yang harus aku syukuri ?? apa yang membedakan aku dengan yang lain ?? toh, pada jaman ini semua orang juga wisuda, semua orang sudah punya gelar, semua orang mempunyai kesempatan dan jalan yang sama.
Begitulah yang aku rasakan ketika menjelang pertanggung jawaban sebuah tugas akhir dalam sebuah uji pra sidang dan ujian sidang.
Jujur, aku tak begitu senang, tak begitu takjub dan aku merasa biasa-biasa saja akan hal itu. ketika pengumuman yudisium di umumkan setiap orang begitu antusias dan bahagia, ada yang mengabadikan lewat gambar dan video ketika nama mereka dinyatakan lulus. Ada tradisi penyambutan bagi mahasiswa2 yang telah sidang, disana teman2 saya sudah mempersiapkan bagaimana mereka memposisikan diri mereka nanti, mereka begitu semangat ketika mereka turun dari lantai 4 menuju halaman fakultas yang nantinya akan disambut oleh rekan2 seperjuangan baik yang belum selesai ataupun yang telah menjadi alumni.
Tapi aku tidak, Aku memilih berdiam diri dikantin, mengobrol dengan penjaga kantin dan merenungkan akan pertanyaan2 yang di atas.
kemudian aku melihat beberapa teman menelpon orang tua mereka, memberi kabar disertai mata yang berkaca-kaca, sungguh terharu dan aku berfikir mengapa aku tidak merasakan hal itu.
Aku mencoba menelpon orang tua dirumah.....
Mamak : "Gimana amang hasilnya ?"
Saya : " Udah barusan beres, oh iya Mak aku booking tiket pulang ya, besok aku langsung pulang" kemudian segera aku akhiri pembicaraan.
"Tidak ada yang berkaca-kaca disana, ....."
Lion Air JT-390, Thursday, 27 Dec 2018 (09:40-11:25)
Jakarta-Pekanbaru.
Siaaapppp, penerbangan pertama lewat jakarta setelah sekian lama terlanjur betah dan nyaman dari bandung. mencari travel dari bandung menuju bandara soetta, yapp tersiswa keberangatan jam 11 malam itu dan akan tiba jam 3 subuh di jakarta, Yaa aku punya waktu cukup lama 7 jam berdiam diri di jakarta sendirian.
Dalam perjalanan bdg-jkt, masih dengan perasaan yang biasa-biasa saja. tidak ada kegembiraan karena kuliah sudah beres atau karena ingin pulang kerumah. tak seperti biasaanya dan tak seperti oranglain pada umumnya. Ku ambil Headphone Kw andalan dan putar musik, tidur, bangun, kemudian tertidur lagi dan bangun lagi hingga musiku mengantarkan ku ke bandara soetta.
Setibanya di bandara, aku memilih untuk berdiam diri di terminal luar menunggu dan melihat alur penurunan penumpang dan pejemputan penumpang, sementara yang lain langsung check-in menuju bandara dan tidur di ruang tunggu/mushalla. aku menikmati hawa subuh pagi hari di jakarta tidak begitu dingin dan tidak begitu panas. 1 jam berlalu ditemani musik-musikku yang terputar lewat Hp.
Sekitar 90 menit berdiam diri, aku mulai berifikir mengapa aku Tuhan ? apa yang akan terjadi ? aku takut, Apa yang harus aku rasakan dan apa yang harus aku lakukan ? Jangan tinggalkan aku Tuhan, tegur aku jika aku dan caraku salah. aku mulai gelisah dan mulai menerka-nerka.
Entah mengapa seketika aku ingin berdoa ditengah keramaian, aku berdoa tapi tidak mengucapkan satu katapun, hanya memanggil dan menyebutkan nama Tuhan kurang lebih sekitar 10 menit, hingga disapa oleh seorang bapak paruh baya yang sedang dalam perjalanan bisnis dia ingin menawarkan permen karetnya.
kemudian aku mengambil Hp dan sibuk membalas chat ucapan selamat, yang sengaja tidak aku balas ketika dalam perjalanan. terbesit keinginan untuk mengambil headphone dan memutar video di Youtube (Aplikasi favorite gue), entah mengapa yang muncul di beranda youtube adalah lagu Rohani yang sering saya putar ketika saat teduh. Ya Sudah, sekalian saja bernyanyi dan berdoa di keramaian itu, kemudian terputarlah lagu Bapa Yang Kekal, aku mendalami setiap lirik diserta emosi jiwa yang berujung air mata, saat dengar lagu itu aku mulai sadar apa yang terjadi kepadaku sekarang dan bagaimana seharusnya aku saat ini. Ya, aku begitu sombong, merasa biasa-biasa saja dan tak ada ucapan syukur keluar dari bibir ini.
Aku mencoba mengulang memori ingatan lama ketika baru memulai perkuliahan, sendiri di tanah sunda, tak kenal satu orangpun, merasa takut dan ragu akan pembelajaran di perkuliahan, kuliah renang tenggelam dan tidak mau ikut gabung dengan komunitas kristen.
Hal tersebutlah yang menyadarkanku begitu dahsyat dan ajaib Tuhan, aku sadar siapa aku dulu hingga Tuhan tak pernah lelah untuk membawaku kembali padanya, memalui kejadian-kejadian yang terjadi pada saat itu, seolah-olah Tuhan berkata ini Aku, kau milik-KU, hiduplah didalam-KU karena aku yang berkuasa atas dirimu, studimu dan hidupmu. ya aku sadar, bahkan untuk kuliah di FPOK/UPI bandung aku tidak menyangka akan keterima, karena faktanya Jurusan olahraga terbaik di Indonesia ya Fpok/Upi ini.
Tak henti-henti mata ini mengeluarkan cairan, sekitar 30 menit aku merenung dan menangis, ya aku harus bersyukur, semudah itu solousi dari keresahan 2 bulan kebelakang yaitu bersyukur atas apa yang boleh terjadi. Seumur hidup aku telah menangis dua kali didepan umum salah satunya karena ini. Aku bersyukur emosi dalam bentuk tangisan keluar hanya ketika sedang dalam pergumulan yang melibatkan perasaan kepada Tuhan bukan untuk hal-hal yang lain.
Cerita singkat yang intinya Jangan lupa Bersyukur, begitu mudah mengucapkan dan menasihati kepada orang lain, tapi percayalah ketika itu terjadi pada kita sungguh hal yang paling sulit, karena bersyukur adalah hal yang kompleks, yang melibatkan perasaan antara kau dan Tuhan.
Sekian dan terimakasih.
I JESUS YOU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar