Mengampuni
“Bukanlah kemampuan
kita berpikir yang membuat kita berbeda dengan hewan, melainkan kemampuan kita
untuk bertobat dan mengampuni” (Solzhenitsyn)
Adalah wajar dan lazim
kalau manusia melakukan kesalahan. Namun adalah sifat ilahi kalau kita bias
mengampuni. Dalam relasi kita dengan sesama pelanggaran dan kesalahan selalu
terjaadi tiap hari, baik yang kita lakukan ataupun yang orang lain lakukan.
Apakah kita bisa tidak
mengampuni dengan alasan bahwa kita hanya manusia biasa bukan manusia dengan
karakter ilahi ?
Kita tidak dapat memahami Kekristenan tanpa memahami pengampunan.
Kita tidak mungkin menghayati kasih kristus tanpa mengalami pengampunan, kita
tidak dapat mengerti arti kematian Yesus di kayu salib tanpa berkaitan dengan
pengampunan. Dalam Kekristenan “pengampunan” dan
“mengampuni” adalah salah satu kosa kata yang sangat umum dan hamper semua
orang Kristen mengenal kata ini. Namun ini sangatlah tidak muda untuk di
praktikkan, mengampuni merupakan suatu konsep kompleks yang berhubunga dengan
perasaan, emosi.
1.
1. Mengapa kita harus mengampuni ?
Mengampuni merupakan suatu tuntutan
Tuhan bagi kita. Secara manusiawi seseorang tidak bersikap penuh kemarahan dan
pengertian terhadap oranglain yang telah berbuat kesalahan atau kerugian pada
kita. Kita harus mengampuni karena Tuhan Yesu memerintahkan kita untuk
mengampuni (Mat 6:14-16, Mrk 11:25). Sebagai orang yang sudah mengalami
pengampunan dari Allah dan mengalami pembaharuan, maka tidaklah berlebihan jika
Allah menuntut kita untuk kita memiliki sifat ilahi ini, yaitu mau dan bisa
mengampuni.
2. 2. Apakah mengampuni merupakan pilihan dan
kehendak yang disadari atau hanya sebagai perasaan dan keadaan nyaman secara
emosi ?
Kolose 3:13, mengampuni adalah suatu
pilihan kehendak yang berdasarkan motivasi untuk menaati firman Allah.
Mengampuni merupakan tindakan jiwa atau mental yang aktif dalam diri manusia,
bukan tindakan yang tidak sengaja atau bahkan sering disebut tindakan pasif.
Bahkan keadaannya kita sering mengampuni karena memaksa diri menaati kehendak
Allah. Jadi persoalannya bukan kita bisa mengampuni atau tidak bisa, melainkan
apakah kita mau mengampuni atau tidak mau mengampuni. Sesungguhnya hidup
sebagai murid Kristus kita tidak memiliki pilihan lain dan harus meneladi
Kristus, yaitu mengampuni.
3. 3. Bagaimana kita bisa mengampuni jika kita
tidak merasa mengampuni? Bagaimana menjadikan pilihan untuk mengampuni menjadi
suatu perubahan sikap hati ?
Apakah kita dapat mengampuni dengan
begitu saja dan seketika kita hendak mengampuni? Belum tentu. Seringkali untuk
melakukan hal ini kita harus bergumul dengan sulit dan begitu panjangnya.
“kita mengampuni
berdasarakan iman dan ketaatan”, karena
menurut saya mengampuni adalah sifat yang bertentangan dari natur manusia, oleh
karena itu kita harus mengampuni dengan iman sehingga dengan segenap hati kita
merasa mengampuni. “ Allah pasti memampukan anak-anak-Nya untuk menaati
firman-Nya”Ia pasti
memampukan hati kita mengalami sepenuhnya mengampuni. Mengampuni bukanlah
sebuah transaksi seketika melainkan suatu jalan hidup, mengampuni haruslah
berfokus pada anugrah Allah yang menjadikan kita mengalami mengubah kita
bagaimana kita harus hidup di dunia ini.
4. 4. Bagaimana kita mengetahui bahwa kita
sungguh-sungguh telah mengampuni?
Lewis B.Smedes mengatakan “jika anda
membebaskan orang yang berbuat salah dari kesalahannya, anda mengeluarkan tumor
akut dari kehidupan batinmu”
Kutipan ini sengaaja saya ambil, karena makna
dan artinya sangat mampu membuat kita mengerti bahwa mengampuni merupakan
kebebasan batin, maksudnya adalah terdapatnya perasaan senang dan lega disaat
kita mengampuni.
Dan kita juga sering mendengar bahwa orang
yang mengampuni hidupnya lebih bahagia dan lebih sehat dari pada mereka yang
menyimpan amarah dan dendam
“FORGIVENESS IS LIKE
FAITH. YOU HAVE TO KEEP REVIVING IT”
-Mason Cooley
Tidak ada komentar:
Posting Komentar