Sabtu, 02 September 2017

MENGAMPUNI

MENGAMPUNI//dantasibarani.blogspot,com

  Mengampuni
“Bukanlah kemampuan kita berpikir yang membuat kita berbeda dengan hewan, melainkan kemampuan kita untuk bertobat dan mengampuni” (Solzhenitsyn)
Adalah wajar dan lazim kalau manusia melakukan kesalahan. Namun adalah sifat ilahi kalau kita bias mengampuni. Dalam relasi kita dengan sesama pelanggaran dan kesalahan selalu terjaadi tiap hari, baik yang kita lakukan ataupun yang orang lain lakukan.
Apakah kita bisa tidak mengampuni dengan alasan bahwa kita hanya manusia biasa bukan manusia dengan karakter ilahi ?
Kita tidak dapat memahami Kekristenan tanpa memahami pengampunan. Kita tidak mungkin menghayati kasih kristus tanpa mengalami pengampunan, kita tidak dapat mengerti arti kematian Yesus di kayu salib tanpa berkaitan dengan pengampunan. Dalam Kekristenan “pengampunan” dan “mengampuni” adalah salah satu kosa kata yang sangat umum dan hamper semua orang Kristen mengenal kata ini. Namun ini sangatlah tidak muda untuk di praktikkan, mengampuni merupakan suatu konsep kompleks yang berhubunga dengan perasaan, emosi.

1.      1. Mengapa kita harus mengampuni ?
Mengampuni merupakan suatu tuntutan Tuhan bagi kita. Secara manusiawi seseorang tidak bersikap penuh kemarahan dan pengertian terhadap oranglain yang telah berbuat kesalahan atau kerugian pada kita. Kita harus mengampuni karena Tuhan Yesu memerintahkan kita untuk mengampuni (Mat 6:14-16, Mrk 11:25). Sebagai orang yang sudah mengalami pengampunan dari Allah dan mengalami pembaharuan, maka tidaklah berlebihan jika Allah menuntut kita untuk kita memiliki sifat ilahi ini, yaitu mau dan bisa mengampuni.
2.      2. Apakah mengampuni merupakan pilihan dan kehendak yang disadari atau hanya sebagai perasaan dan keadaan nyaman secara emosi ?
Kolose 3:13, mengampuni adalah suatu pilihan kehendak yang berdasarkan motivasi untuk menaati firman Allah. Mengampuni merupakan tindakan jiwa atau mental yang aktif dalam diri manusia, bukan tindakan yang tidak sengaja atau bahkan sering disebut tindakan pasif. Bahkan keadaannya kita sering mengampuni karena memaksa diri menaati kehendak Allah. Jadi persoalannya bukan kita bisa mengampuni atau tidak bisa, melainkan apakah kita mau mengampuni atau tidak mau mengampuni. Sesungguhnya hidup sebagai murid Kristus kita tidak memiliki pilihan lain dan harus meneladi Kristus, yaitu mengampuni.


3.     3. Bagaimana kita bisa mengampuni jika kita tidak merasa mengampuni? Bagaimana menjadikan pilihan untuk mengampuni menjadi suatu perubahan sikap hati ?
Apakah kita dapat mengampuni dengan begitu saja dan seketika kita hendak mengampuni? Belum tentu. Seringkali untuk melakukan hal ini kita harus bergumul dengan sulit dan begitu panjangnya.
kita mengampuni berdasarakan iman dan ketaatan”, karena menurut saya mengampuni adalah sifat yang bertentangan dari natur manusia, oleh karena itu kita harus mengampuni dengan iman sehingga dengan segenap hati kita merasa mengampuni. “ Allah pasti memampukan anak-anak-Nya untuk menaati firman-Nya”Ia pasti memampukan hati kita mengalami sepenuhnya mengampuni. Mengampuni bukanlah sebuah transaksi seketika melainkan suatu jalan hidup, mengampuni haruslah berfokus pada anugrah Allah yang menjadikan kita mengalami mengubah kita bagaimana kita harus hidup di dunia ini.

4.      4. Bagaimana kita mengetahui bahwa kita sungguh-sungguh telah mengampuni?
Lewis B.Smedes mengatakan “jika anda membebaskan orang yang berbuat salah dari kesalahannya, anda mengeluarkan tumor akut dari kehidupan batinmu”
Kutipan ini sengaaja saya ambil, karena makna dan artinya sangat mampu membuat kita mengerti bahwa mengampuni merupakan kebebasan batin, maksudnya adalah terdapatnya perasaan senang dan lega disaat kita mengampuni.
Dan kita juga sering mendengar bahwa orang yang mengampuni hidupnya lebih bahagia dan lebih sehat dari pada mereka yang menyimpan amarah dan dendam

“FORGIVENESS IS LIKE FAITH. YOU HAVE TO KEEP REVIVING IT”
-Mason Cooley

Tidak ada komentar:

Posting Komentar