Bagaimana
Allah mengasihi kita ?
Banyak
ayat alkitab yang mengatakan Allah dengan kesetianNya selalu mengasihi kita,
tetapi kita masih saja ragu akan dengan kasih yang Dia berikan, misalnya kita
selalu merasa khawatir akan kehidupan kita, studi dan pelayanan kita. Dalam Galatia
2:20 “Dia mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku”. Bisakah kita
memaknai ini ? pergumulan kita akan jauh lebih ringan jika kita memaknai ayat
tersebut, penyerahan Dia rela mati di Kayu Salib sudah menjadi bukti nyata Dia
begitu mengasihi kita. Menurut anda apa yang menahan Yesus di Kayu Salib ? jika
kita berpikir secara logika, hanya ada sebuah paku yang menahan Yesus di Kayu
Salib, bukankah itu dengan mudah dilepaskan ? apakah sebuah paku cukup untuk
menahan Dia ? “ Ya Tuhan, sesungguhnya karena Kasih Mu lah yang menahan Engkau
di Kayu Salib, Kasih-Nyalah yang menahan Dia agar tetap rela mati di Kayu
Salib.
Tidak ada kasih yang lebih besar
dibandingkan kash seorang sahabat yang rela memberikan nyawanya. Nyawa sudah
cukup menjadi bukti besar dan nyata akan kasih.
1
Yohanes 4:10 “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah
mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi
dosa-dosa kita.” You see that ? apakah kita masi ragu akan kasihNya yang
sejati. Kasih Allah sejati yang tak terbatas diberikan kepada kita manusia yang
terbatas, tapi jangan biarkan perbuatan kasih kita menjadi terbatas, karna
kasih yang kita terima dari Allah kita adalah kasih yang tak terbatas dan tidak
berkesudahan.
Ketika
orang israel di padang belantara, mereka terkenang akan sayur-mayur, bawang dan
semangka di mesir, mereka lupa akan aniaya raja Firaun, lupa akan kesengsaraan
perbudakan di mesir, lupa akan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari
kesengsaraan yang sangat besar itu. Karena itu, hati mereka seperti tidak bisa
meninggalkan mesir. Begitu pula, jika kita melupakan salib, kita pun akan
melupakan kasih Allah. Jika kita melupakan kasih Allah, sudah tentu kita akan
memikirkan dunia lagi, memikirkan akan kekhawtiran kita.
Jika pada suatu hari, salib tidak
bisa menggerakkan hati anda lagi, pada hari itulah anda telah jatuh.
Bagaimana
seharusnya kita ?
1
Yohanes 2:15 “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau
orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu”. Allah
senang bila kita mengasihi dia, Allah tidak hanya menghendaki kita percaya
kepadaNya, tetapi juga mengehendaki kita mengasihi Dia. Banyak orang muda tidak
dapat membuang dunia. Ketika mereka baru saja beribadah,bersekutu dan berdoa,
mereka seakan-akan tidak mau mengasihi dunia lagi. Tetapi berselang beberapa
waktu, mereka kembali seolah-olah tidak dapat pisah dari dunia. Pekerjaan dan
studi menjadi ladang bagi iblis menjadikan kita mengasihi dunia, karena hampir
setiap kegiatan kita lakukan disana dan dalam kegiatan kita tersebut tidak
menyelipkan perkenanan Tuhan dan membuat kita menjadi goyah.
Dimanakah
kasih itu dibutuhkan ?
Kasih
seharusnya bisa dilakukan ditempat tidak ada kasih. Ketika kita melihat
bayi/anak kecil dengan kelucuannya,mempunyai fisik yang sempurna, cantik dan
pintar, kita secara spontan memeluk, mencubit pipinya dan bahkan mau
menggendong bayi tersebut. “Tetapi apakah sama hal yang kita lakukan, jika bayi
tersebut “cacat” misalnya tidak punya kaki,tangan atau mempunyai cacat dibagian
mukanya ? apakah kita mau tetap mengasihi dia,menggendong bayi tersebut ?
bukankah bayi yang “cacat” tersebut jauh lebih membutuhkan kasih daripada baya
yang sehat(tidak cacat) ?
Maka
dari itu, saya berani mengatakan berilah kasih kepada yang tidak punya kasih
atau yag jauh lebih membutuhkan kasih kita. Maka hal tersebut menjadikan kasih
kita nyata dan kiranya nama Tuhan boleh dipermuliakan.
TUHAN
MEMBERKATI
I
JESUS YOU
SEE
YOU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar