Minggu, 12 Maret 2017

BAGAIMANA ALLAH MENGASIHI KITA ?



Bagaimana Allah mengasihi kita ?
Banyak ayat alkitab yang mengatakan Allah dengan kesetianNya selalu mengasihi kita, tetapi kita masih saja ragu akan dengan kasih yang Dia berikan, misalnya kita selalu merasa khawatir akan kehidupan kita, studi dan pelayanan kita. Dalam Galatia 2:20 “Dia mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku”. Bisakah kita memaknai ini ? pergumulan kita akan jauh lebih ringan jika kita memaknai ayat tersebut, penyerahan Dia rela mati di Kayu Salib sudah menjadi bukti nyata Dia begitu mengasihi kita. Menurut anda apa yang menahan Yesus di Kayu Salib ? jika kita berpikir secara logika, hanya ada sebuah paku yang menahan Yesus di Kayu Salib, bukankah itu dengan mudah dilepaskan ? apakah sebuah paku cukup untuk menahan Dia ? “ Ya Tuhan, sesungguhnya karena Kasih Mu lah yang menahan Engkau di Kayu Salib, Kasih-Nyalah yang menahan Dia agar tetap rela mati di Kayu Salib.
            Tidak ada kasih yang lebih besar dibandingkan kash seorang sahabat yang rela memberikan nyawanya. Nyawa sudah cukup menjadi bukti besar dan nyata akan kasih.
1 Yohanes 4:10 “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” You see that ? apakah kita masi ragu akan kasihNya yang sejati. Kasih Allah sejati yang tak terbatas diberikan kepada kita manusia yang terbatas, tapi jangan biarkan perbuatan kasih kita menjadi terbatas, karna kasih yang kita terima dari Allah kita adalah kasih yang tak terbatas dan tidak berkesudahan.
Ketika orang israel di padang belantara, mereka terkenang akan sayur-mayur, bawang dan semangka di mesir, mereka lupa akan aniaya raja Firaun, lupa akan kesengsaraan perbudakan di mesir, lupa akan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari kesengsaraan yang sangat besar itu. Karena itu, hati mereka seperti tidak bisa meninggalkan mesir. Begitu pula, jika kita melupakan salib, kita pun akan melupakan kasih Allah. Jika kita melupakan kasih Allah, sudah tentu kita akan memikirkan dunia lagi, memikirkan akan kekhawtiran kita.
            Jika pada suatu hari, salib tidak bisa menggerakkan hati anda lagi, pada hari itulah anda telah jatuh.



Bagaimana seharusnya kita ?
1 Yohanes 2:15 “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu”. Allah senang bila kita mengasihi dia, Allah tidak hanya menghendaki kita percaya kepadaNya, tetapi juga mengehendaki kita mengasihi Dia. Banyak orang muda tidak dapat membuang dunia. Ketika mereka baru saja beribadah,bersekutu dan berdoa, mereka seakan-akan tidak mau mengasihi dunia lagi. Tetapi berselang beberapa waktu, mereka kembali seolah-olah tidak dapat pisah dari dunia. Pekerjaan dan studi menjadi ladang bagi iblis menjadikan kita mengasihi dunia, karena hampir setiap kegiatan kita lakukan disana dan dalam kegiatan kita tersebut tidak menyelipkan perkenanan Tuhan dan membuat kita menjadi goyah.
Dimanakah kasih itu dibutuhkan ?
Kasih seharusnya bisa dilakukan ditempat tidak ada kasih. Ketika kita melihat bayi/anak kecil dengan kelucuannya,mempunyai fisik yang sempurna, cantik dan pintar, kita secara spontan memeluk, mencubit pipinya dan bahkan mau menggendong bayi tersebut. “Tetapi apakah sama hal yang kita lakukan, jika bayi tersebut “cacat” misalnya tidak punya kaki,tangan atau mempunyai cacat dibagian mukanya ? apakah kita mau tetap mengasihi dia,menggendong bayi tersebut ? bukankah bayi yang “cacat” tersebut jauh lebih membutuhkan kasih daripada baya yang sehat(tidak cacat) ?
Maka dari itu, saya berani mengatakan berilah kasih kepada yang tidak punya kasih atau yag jauh lebih membutuhkan kasih kita. Maka hal tersebut menjadikan kasih kita nyata dan kiranya nama Tuhan boleh dipermuliakan.
TUHAN MEMBERKATI
I JESUS YOU
SEE YOU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar